Tampilkan postingan dengan label Berita Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Rating Investasi Indonesia Masih Belum Naik
JAKARTA - Selama kurun waktu empat tahun terakhir, Indonesia menduduki peringkat ke-9 negara tujuan utama penanaman investasi asing langsung (foreign direct investment). Hal tersebut, merupakan hasil survei United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD).
Demikian diungkapkan Direktur Kerjasama Regional Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rizar Indomo Nazaroedin, kala ditemui dalam acara Indonesia Menuju Asean Economic Community (AEC), Investment Grade Rating & AEC 2015: Peluang dan Tantangan dalam Peningkatan Perekonomian Indonesia, di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin (14/5/2012).
Rizar melanjutkan, survei tersebut dilakukan terhadap 193 negara maju dan atau negara berkembang di dunia. Peringkat Indonesia untuk dua periode yaitu 2009-2011 dan 2010-2012 tidak berubah yaitu berada pada posisi kesembilan untuk negara tujuan investasi utama FDI.
Khusus untuk periode 2010-2012, Indonesia mengalahkan Jerman, Thailand, Jepang, dan Malaysia. "Indonesia saat ini sudah bisa memilih investor," paparnya.
Hal ini juga dikukuhkan oleh beberapa lembaga pemeringkat. Seperti diketahui, Indonesia telah mengantongi beberapa rating investasi dari lembaga-lembaga pemeringkat internasional. Di kesempatan yang sama, Direktur Keuangan PT Bank Mandiri Tbk Pahala Mansury menambahkan, Indonesia merupakan penyumbang porsi Produk Domestik Bruto (GDP) terbesar di ASEAN atau sekira 50 persen-51 persen.
"Dengan naiknya GDP per kapita yang mencapai angka sekira USD3.500, itu sangat mungkin porsi GDP itu dari Indonesia," ungkap Pahala. (mrt)
Demikian diungkapkan Direktur Kerjasama Regional Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rizar Indomo Nazaroedin, kala ditemui dalam acara Indonesia Menuju Asean Economic Community (AEC), Investment Grade Rating & AEC 2015: Peluang dan Tantangan dalam Peningkatan Perekonomian Indonesia, di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin (14/5/2012).
Rizar melanjutkan, survei tersebut dilakukan terhadap 193 negara maju dan atau negara berkembang di dunia. Peringkat Indonesia untuk dua periode yaitu 2009-2011 dan 2010-2012 tidak berubah yaitu berada pada posisi kesembilan untuk negara tujuan investasi utama FDI.
Khusus untuk periode 2010-2012, Indonesia mengalahkan Jerman, Thailand, Jepang, dan Malaysia. "Indonesia saat ini sudah bisa memilih investor," paparnya.
Hal ini juga dikukuhkan oleh beberapa lembaga pemeringkat. Seperti diketahui, Indonesia telah mengantongi beberapa rating investasi dari lembaga-lembaga pemeringkat internasional. Di kesempatan yang sama, Direktur Keuangan PT Bank Mandiri Tbk Pahala Mansury menambahkan, Indonesia merupakan penyumbang porsi Produk Domestik Bruto (GDP) terbesar di ASEAN atau sekira 50 persen-51 persen.
"Dengan naiknya GDP per kapita yang mencapai angka sekira USD3.500, itu sangat mungkin porsi GDP itu dari Indonesia," ungkap Pahala. (mrt)
Armida, Si Akademisi yang Angkat Kaum Perempuan
Berbicara soal wanita, tidak bisa dipungkiri dari dulu hingga kini mereka memegang peranan penting dalam setiap aspek kehidupan. Baik dalam aspek pembangunan negara, ekonomi, maupun keluarga. Ternyata, wanita pun ternyata kini bisa menentukan "nasib" masa depan sebuah bangsa.
Lihat saja Menteri Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), Armida Salsiah Alisjabana. Sejak 2009 hingga sekarang, dirinya bisa dikatakan menjadi salah satu sosok Kartini masa kini yang mempunyai peranan penting di Indonesia. Khususnya dalam mengambil kebijakan atau policy dalam rangka pembangunan ekonomi.
Wanita berkacamata ini mengawali karirnya sebagai kaum profesional akademisi. Armida memandang, jika pembangunan ekonomi Indonesia ingin lebih maju, maka kaum perempuan dan usia produktif alias anak muda harus diberdayakan semaksimal mungkin.
"Kalau Indonesia ingin berhasil, kuncinya ya ini dikaum muda dan perempuan ini. Apapun, Anda bicara pendidikan kan kaum perempuan atau ibu yang memegang peranan. Bicara kesehatan kaum ibu dan perempuan juga yang memegang peranan, berbicara UMKM di desa seperti kaum rumah tangga berpenghasilan rendah, kaum ibu dan perempuan juga berperan," ungkapnya ketika berbincang dengan Okezone beberapa waktu lalu.
Membidik peluang tersebut, wanita yang lahir di Bandung 16 Agustus 1960 itu memainkan perannya sebagai Kepala Bappenas yakni membuat dan merumuskan kebijakan-kebijakan yang menyangkut gender. Dalam artian, memberikan sensitivitas atau perhatian cukup terhadap kaum perempuan.
Wanita yang terlihat lemah lembut ini mengatakan, sebanyak 50 persen penduduk di Indonesia didominasi oleh kaum wanita dan usia produktif. Armida pun selalu mengutamakan dan mengusung isu pendidikan dan kesehatan. Ibu dua orang puteri ini memandang dua hal tersebut penting untuk membuat kaum wanita di Indonesia dapat lebih maju lagi dibandingkan saat ini.
"Pendidikan dan kesehatan sangat kita fokuskan. Artinya makin lama kita harapkan Sumber Daya Manusia (SDM) kita semakin baik. Nah, bila makin baik, usia muda makin banyak produktif. Apalagi lebih dari setengah penduduk Indonesia kan kaum perempuan. Potensinya di sana," tutur wanita yang juga guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran, Bandung.
Melihat potensi tersebut, Armida pun optimistis kualitas SDM di Indonesia, khususnya kaum wanita dan usia muda akan terus menanjak. Hal ini dilihat berdasarkan dari tingkat pengangguran yang makin turun dari waktu ke waktu.
"Rata-rata pendidikan kita lama-lama makin meningkat. Ya memang rata-rata lulus SMP belum, tapi menuju ke situ iya. Jadi makin meningkat. Lalu pendidikan wajib belajar (wajar) sudah sembilan tahun, sekarang lagi dirintis menuju 12 tahun," imbuhnya.
Kesempatan Makin Terbuka Lebar
Beda zaman, beda pula kesempatan yang ada. Armida menuturkan, saat ini kesempatan bagi kaum wanita untuk lebih maju dan sukses semakin terbuka lebar di Indonesia. Baik kesempatan untuk memperoleh pendidikan, juga kesempatan untuk memperoleh pekerjaan. Dengan meningkatnya tingkat pendidikan pada kaum wanita serta kaum muda maka kualitas daripada SDM di Indonesia pun akan semakin meningkat pula.
"Kalau diberikan kesempatan, perempuan memang tidak akan kalah. Makanya, sekali lagi pendidikan sangat penting. Harus sekolah dulu ya. Kalau dulu tamat SD, sekarang harus tamat SMP atau SMA, terus maju ke perguruan tinggi. Lagipula sekarang ini macamnya SMU banyak, ada SMK, Politeknik, D1, D2, D3. Banyak pilihan, sesuaikan dengan kemampuan dan minat," tutur wanita yang mendapat gelar Doctor of Philosophy (PhD) ini Economics dari University of Washington, USA.
Sementara dilihat dari sisi pekerjaan, wanita dinilainya mempunyai kesempatan yang sama dengan pria. Ekonomi Indonesia yang tumbuh, seperti misalnya di sektor energi, bukan tak mungkin membuat sosok wanita berjaya dan berkembang di sektor ini.
"Kita tumbuh cukup bagus, yaitu industri pengolahan itu banyak untuk wanita lalu ada juga industri krreatif yang sangat prospektif jadi ada dua sisi untuk kaum perempuan ini yaitu adanya kesempatan karena SDM-nya bagus, di lain pihak kesempatan kerja juga terbuka lebar. Ini kalau kita dorong lebih cepat lagi sangat luar biasa imbasnya bagi negara kita," imbuhnya.
"Bayangkan jika sebuah negara yang tidak dapat memberikan kesempatan dan juga tidak dapat memberdayakan 50 persen dari penduduknya yang mayoritas kaum wanita dan kaum muda itu suatu lost ya, mereka akan mencari tenaga kerja dari negara lain," tuturnya.
Selama menjalani karirnya dalam bidang profesional akademisi ini, wanita yang meraih gelar Master of Arts (MA) in Economics, di Northwestern University Illinois, USA tersebut tidak merasakan adanya diskiriminasi terhadap kaum wanita. Dirinya berpendapat bahwa pada zaman modern seperti ini banyak sekali kemajuan yang terasa khususnya dalam dunia pendidikan yang telah digelutinya selama ini.
"Dalam dunia pendidikan, Alhamdulillah tidak ya. Saya rasa sudah banyak yang jadi dosen, guru besar, pengelola perguruan tinggi, rektor universitas besar baik negeri maupun swasta, sudah banyak dipegang oleh wanita. Jadi ini sudah banyak kemajuan. Kita ingin lebih banyak lagi terutama untuk yang pendapatan rendah ini, bagaimana caranya hal ini dapat diatasi salah satunya dengan pendidikan yang lebih baik," ungkap wanita yang pernah menjadi dosen fakultas ekonomi di Universitas Padjajaran.
Sosok Kartini di Mata Armida
Berkarir sebagai seorang wanita tentu tidak mudah. Sebagai seorang wanita apalagi yang telah berkeluarga tentunya harus mampu berbagi waktu antara keluarga dengan amanat yang diembannya sebagai pejabat publik dan tentunya memiliki spirit yang besar agar dapat menjalankan kedua peran tersebut secara maksimal.
Berkarir sebagai seorang wanita tentu tidak mudah. Sebagai seorang wanita apalagi yang telah berkeluarga tentunya harus mampu berbagi waktu antara keluarga dengan amanat yang diembannya sebagai pejabat publik dan tentunya memiliki spirit yang besar agar dapat menjalankan kedua peran tersebut secara maksimal.
Spirit itulah yang memotivasi Armida dalam menjalankan peran double sekaligus. Bagi wanita yang di sela-sela kesibukannya masih sempat berkebun ini menuturkan bahwa sosok Kartini memiliki visi pemikiran yang jauh ke depan sehingga kaum wanita bisa seperti saat sekarang ini.
"Ibu Kartini hadir waktu masih dalam penjajahan Belanda. waktu itu peran dari kaum perempuan sangat minim atau orang Indonesia juga minim semua. Nah, bahwa ada seorang wanita muda, pada saat itu dalam kondisi sangat terkungkung, apalagi kaum wanitanya ya beliau hadir untuk membela emansipasi wanita. Itulah menjiwai dan yang mensipirasi kaum wanita Indonesia. Itu kan spiritnya disitu dan beliau memberikan perhatian yang sangat utama dari mulai pendidikan. beliau itu satu punya visi pemikiran jauh ke depan kedua melaluinya melalui pendidikan. itu hebatnya," tutur wanita yang meraih gelar sarjana ekonominya di Universitas Indonesia (UI) ini.
Spirit yang dimiliki oleh Armida juga datang dari keluarga yang selalu mendukungnya kapan dan dimanapun. Menurutnya, hal tersebut sangat penting karena jika hal tersebut tidak dimilikinya maka dirinya tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik.
"Tentu mendukung. Tidak mungkin berkarir tanpa dukungan keluarga, suami, anak-anak, orangtua, dan mertua. Itu saja ya yang paling dekat. Tidak ada masalah, jadi pikiran tenang, jadi bisa fokus dan tenang dalam pekerjaan," tuturnya.
Wanita yang memiliki hobi fitness ini pun selalu berbagi waktu dengan keluarganya adalah dengan pulang ke rumahnya yang ada di Bandung dua minggu sekali atau sebulan sekali atau sesekali keluarga yang mengunjungi Armida ke Jakarta. Menurutnya, dengan cara seperti itulah komunikasi selalu terjalin lancar dengan keluarganya.
"Apapun, intinya keluarga, harus baik, harus harmonis. saya bisa seperti ini karena suami, dan anak-anak saya mendukung. kalau keluarga baik itu pasti akan lancar. Karena kalau keluarga tidak baik itu kan ganggu dan jadi pikiran. kalau semuanya baik dan aman otomatis lancar semuanya nanti," tambahnya.
Sebuah Kehormatan Diberi Amanah
Diberi amanah untuk memangku jabatan sebagai pejabat publik merupakan sebuah kehormatan bagi Armida. Maka dari itu dirinya sangat tidak berpikir panjang lagi ketika dirinya dipilih untuk menjadi Menteri Bappenas. Dirinya sangat merasa beruntung diberi pengalaman untuk berbuat sesuatu bagi Ibu Pertiwi ini.
Diberi amanah untuk memangku jabatan sebagai pejabat publik merupakan sebuah kehormatan bagi Armida. Maka dari itu dirinya sangat tidak berpikir panjang lagi ketika dirinya dipilih untuk menjadi Menteri Bappenas. Dirinya sangat merasa beruntung diberi pengalaman untuk berbuat sesuatu bagi Ibu Pertiwi ini.
"Kalau siapapun diminta, saya rasa tidak ada kata waktu kesempatan atau pilihan, yang memang pilihannya waktu itu antara iya dan tidak. kalau seperti saya itu kan diminta dan ditugaskan oleh bapak Presiden jadi tidak ada pilihan lain dan hal itu satu kehormatan bagi saya dan ini juga khn untuk negara," ucapnya.
Oleh karena itu dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan dirinya selalu menjaga keselamatan agar bisa membuahkan kebijakan yang tentunya dapat berguna bagi pembangunan di Indonesia.
"Tidak ada masalah. Kalau tantangan pribadi adalah tetap menjaga kesehatan. Selain itu dalam menjalankan tugas ini menjaga keselamatan dalam artian dalam membuat kebijakan, mengambil keputusan itu harus selamat, jangan sampai melanggar aturan. Zaman sekarang kan serba transparan akuntable, jadi harus selamat dalam artian tetap dalam koridor-koridor aturan, jangan menyalahi aturan. Agar bisa menjalankan amanah dengan berhasil dan sukses sehingga akan menghasilkan dampak yang baik juga terutama dalam merumuskan berbagai perencanaan agar diperoleh policy yang baik pula," beber Armida.
Sehingga ke depannya, agar pembangunan di Indonesia tersebut dapat berhasil maka dirinya pun akan mengoptimalkan perkembangan didaerah terutama di dalam kabupaten-kabupaten yang tersebar diseluruh penjuru kota di Indonesia. Menurutnya hal itulah merupakan ujung tombak dalam pembangunan di Indonesia.
"Yang paling penting adalah daerah juga. Kan otonomi daerah ini ada di kabupaten atau kota. Keberhasilan pembangunan titik berat akan sangat ditentukan oleh daerah pusat juga, tapi dengan otonomi daerah juga sangat berperan. maka dari itu, supaya efektif didaerah terutama diujung tombaknya kabupaten atau kota. Bagaimana meningkatkan kemampuan dan kapasitas mulai dari perencanaan atau penganggaran di daerah harus bisa dikoordinasikan dengan baik agar semuanya berjalan seirama," tutupnya. (ade)
Sumber : http://economy.okezone.com/
Unilever Catatkan Omzet Rp23,5 Triliun di Kuartal I
JAKARTA - Unilever, induk usaha PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatatkan peningkatan omzet sebesar 16,5 persen menjadi Rp23,5 triliun. Sementara laba operasi naik 27,3 persen dan laba bersih naik 17,8 persen.
“Kami awali 2012 dengan baik di kuartal pertama," kata Executive Vice President Unilever untuk Asia tenggara dan Australia Peter Kulve dalam keterangan tertulisnya, Selasa (15/5/2012).
Dia mengungkapkan, sejalan dengan investasi yang ditanamkan, perkembangan bisnis Unilever menunjukan kinerja yang baik selama 2011 dan kuartal pertama 2012. Pada tahun 2011, perusahaan ini berhasil mencapai omzet sebesar Rp23,5 triliun atau naik 19,2 persen dari tahun 2010.
Laba operasi pada tahun 2011 pun naik 20,1 persen menjadi Rp5,4 triliun, dan laba bersih naik menjadi 4,2 triliun atau meningkat 22,9 persen dari tahun sebelumnya. "Selama 2011 perseroaan juga mendistrisibusikan dividen sebesar Rp4,5 triliun atau naik 48,9persen dari tahun 2011,” tambah Kulve.
“Bagi kami satu-satunya cara untuk terus berkembang di Indonesia maupun di seluruh dunia dalah dengan cara yang sustainable, kami berambisi untuk meningkatkan bisnis kami dua kali lipat di tahun 2020," tutup Peter. (wdi)
“Kami awali 2012 dengan baik di kuartal pertama," kata Executive Vice President Unilever untuk Asia tenggara dan Australia Peter Kulve dalam keterangan tertulisnya, Selasa (15/5/2012).
Dia mengungkapkan, sejalan dengan investasi yang ditanamkan, perkembangan bisnis Unilever menunjukan kinerja yang baik selama 2011 dan kuartal pertama 2012. Pada tahun 2011, perusahaan ini berhasil mencapai omzet sebesar Rp23,5 triliun atau naik 19,2 persen dari tahun 2010.
Laba operasi pada tahun 2011 pun naik 20,1 persen menjadi Rp5,4 triliun, dan laba bersih naik menjadi 4,2 triliun atau meningkat 22,9 persen dari tahun sebelumnya. "Selama 2011 perseroaan juga mendistrisibusikan dividen sebesar Rp4,5 triliun atau naik 48,9persen dari tahun 2011,” tambah Kulve.
“Bagi kami satu-satunya cara untuk terus berkembang di Indonesia maupun di seluruh dunia dalah dengan cara yang sustainable, kami berambisi untuk meningkatkan bisnis kami dua kali lipat di tahun 2020," tutup Peter. (wdi)
Sumber : http://economy.okezone.com


